Wednesday, 28 September 2011

mengukur sudut ruang


PENGUKURAN SUDUT DATAR
 LETAK TITIK DAN KOORDINAT SECARA REPETISI
A. Tujuan
      Setelah selesainya perkuliahan ini diharapkan mahasiswa/wi dapat hendaknya:
1.      Menyebutkan jenis-jenis sudut datar dengan alat ukur theodolit.
2.       Menerangkan kapan dilakukan sudut datar secara repetisi.
3.      Menghitung besar sudut yang teliti dengan cara repetisi.
4.      Menghitung sudut jurusan (ab) bila koordinat titik A dan B diketahui serta menerangkan sifat-sifat sudut jurusan.
B.     Landasan Teori
Theodolit adalah alat ukur penyipat ruang yang mampu mengukur garis suatu objek dari titik pokok dan mampu mengukur besar sudut baik horizontal maupun vertikal . Pada pengukuran sudut  datar yang menggunakan theodolit dibagi menjadi:

1.                                                                                          CaraReiterasi                
Bila sudut titik (p) bertemu beberapa jurusa, yaitu jurusan pemilu ketitik A , B,Cdan D.maka dapat ditentukan langsung < APD,  P-A, P-B,P-C,dan P-D.Alat dalam keadaan biasa (Bi)
Pengukuran P-A,alat < H = 0O0׳ 0״,< V= 0O 0׳ 0״                                    
Kemudian dari P-D (setelah siap Bi),dilakukan pengukuran P-D , P-C, P-B, PA,
2.   Cara Repetisi       
Dengan cara ini besar sudut tidak langsung didapat, melainkan berdasarkan kelipatan N suatu sudut.
Besar sudut = 1/N x hasil pengukuran kelipatan N sudut N = repetisi
Pengukuran dilakukan hanya untuk sudut (    H = 0o0'0" dan V = 0o0'0". Besar α = pemb II – pemb I. Pengukuran dengan cara ini dilakukan berkali-kali.
Toleransi pengukuran adalah sebesar α + 10″
C. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja dari penggunaan alat penyipat ruang (theodolit) di lapangan adalah sebagai berikut:
1.      Pengukuran keadaan lapangan agar tidak terjadi kecelakaan saat penggunaan alat theodolit.
2.      Gunakan alat sesuai dengan fungsinya.
3.      Ikutilah langkah kerja yang ada.
4.      Kerjalah dengan teliti dan berkonsentrasi.

D. Langkah Kerja
  1. Stel alat di titik P
  2. Tentukan arah utara (A)
  3. Putar alat kearah B, baca bacaan sudut horizontal
  4. Setelah itu putar kembali kearah A dengan mengunci sekrup atas dan melonggarkan sekrup bawah.
  5. Setelah tepat dititik A, kunci skrup bawah dan sekrup atas dibuka lalu diputar kembali kearah B. pada pengukuran kedua tidak dibaca sudutnya.
  6. Lakukan langkah 4 dan 5 kembali, kemudian didapatkan pengukuran sudut ketiga. Bacaan sudut ini dibaca sebagai bacaan sudut ketiga.

E. Gambar kerja

                                                                     A
 

                          

F. Tabel Pengukuran
Pengukuran           : Sudut datar
Hari/tanggal          : Sabtu, 24 Maret 2007
Lokasi                   : Blok Jurusan Teknik Sipil
Cuaca                    : Cerah
Diukur                   : Desi Ratnasari
Alat                       : Sokkia 
No
Titik ukur
Bacaan
Hasil analisa
Jurusan
Keterangan
1
A
00 01 011
-
-
-
2
1 x B
490 81 1011
-
-
-
3
3 x B
1470 241 2011
-
-
-

G. Analisa Data
Cek bacaan sudut
1 x F                      490 81 1011
                                                                   3 x
                                    1470 241 3011
Toleransi          a + 1011
            Dari bacaan sudut didapatkan 147o 24′ 20″
H. Tabel Analisa
Pengukuran     : Sudut datar
Hari/tanggal    : Sabtu / 24 maret 2007
Lokasi             : Blok jurusan teknik sipil
Cuaca              : Cerah
Diukur             : Desi Ratnasari
Alat                 : Sokkia 

No
Titik ukur
Bacaan
Hasil Analisa (1 x B ) x 3
Jurusan
Keterangan
1
A
00 0′ 0″
-

Sudut sebenarnya 4908′ 7″
2
1 x B
490 8′ 10″
-
490 8′ 10″

3
3 x B
1470 24′ 20″
1470 24′ 30″ : 3
490 8′ 6,67″

I. Kesimpulan
Dari pratikum tersebut dapat diambil kesimpulan
1.Pengukuran sudut dengan alat theodolit secara repetisi melakukan ketepatan dan ketelitian
2.Dari analisa pengukuran sudut dengan alat theodolit masuk toleransi yaitu berselisi sebesar 10″ jadi pegukuran dapat dianggap benar.
3.Kekompokan kelompok sangat diperlukan dalam penelitian ini.


J. Gambar Kerja
                                                              A
 



                                   N = 3
P                        α = 490 8’ 7”



B

No comments :

Post a Comment